Sejarah Singkat Gedung BI Berkisah Siti Nurbaya Lintas Empat Generasi

Sejarah Singkat Gedung BI – Membayangkan kota Padang jangan hanya masakan Padang. Kota dengan legenda Siti Nurbaya dan Malin Kundang itu salah satu kota bersejarah di Nusantara. Riwayatnya membentang jauh semenjak sebelum orang Belanda datang ke wilayah itu.

Sejarah Singkat Gedung BI Berkisah Siti Nurbaya Lintas Empat Generasi

Sejarah Singkat Gedung BI Berkisah Siti Nurbaya Lintas Empat Generasi (Sumber: viva.co.id)

Karena berada di pesisir barat Sumatera, padang mulanya berupa kota nelayan Sesudah Perusahaan Hindia Timur Belanda, padang menjadi pusat perniagaan Sejak itu lah Padang berkembang menjadi pusat perdagangan.

Jejak perniagaan era kolonial dapat ditemui di tidak sedikit sudut kota itu. salah satunya ialah keberadaan gedung Bank Indonesia di Jalan Batang Aau Nomor 60, Kelurahan Berok Nopah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Bangunan tersebut dahulu dikenal sebagai kantor De Javasche Bank (Bank Pulau Jawa) cabang Padang, cabang ketiga setelah Surabaya di Jawa Timur dan Semarang di Jawa Tengah. Gedung kokoh berciri arsitektur Eropa dengan pintu lebar tersebut berdiri tepat di samping Jembatan Sitti Nurbaya.

Gedung De Javasche Bank cabang Padang kali pertama dibuka pada dua puluh sembilan Agustus 1864. Lokasinya saat tersebut berada di Nipalaan Verpanding Nomor 1140 atau sekarang disebut Jalan Nipah.

Pemerintah Hindia Belanda lantas membangun gedung baru perkantoran De Javasche Bank. Lokasi yang dipilih kali ini berada di Jalan Batang Arau Nomor 60. Area itu lebih strategis dari sebelumnya lantaran berseberangan dengan dermaga Muaro Padang.

Pendirian De Javasche Bank di Padang pada masa itu bukan tanpa alasan. terutama dalam menopang perekonomian dan kota perdagangan terbesar di pesisir pantai barat Sumatera, untuk membangun gedung De Javasche Bank diputuskan oleh membuat pemerintah kolonial.

Kawasan Batang Arau menjadi pilihan terbaik sebab jalur perniagaan, ada pelabuhan dan banyak moda transportasi laut. Kamer Van Koophandel En Nijverheid atau Kamar Dagang dan Industri Kota Padang-lah yang berperan dalam pembangunan itu.

Menurut Mestika Zed, sejarawan pada Universitas Negeri Padang, sewaktu pendudukan Jepang, sekira tahun 1942 sampai 1945, gedung De Javasche Bank, sempat diambil alih dan diganti oleh Jepang dengan nama Nanpo Kaihatsu.

Pada 1945, Belanda datang lagi dengan membonceng tentara Sekutu. Tidak hanya kembali menguasai beberapa wilayah di Indonesia, Belanda juga merebut De Javasche Bank pada 23 Oktober 1947.

Perihal terpenting dalam sejarah perkembangan De Javasche Bank, kata Mestika, terjadi pada 1951. Kala tersebut terjadi pengambilalihan oleh pemerintah Indonesia dari tangan pemerintah kolonial. Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia waktu itu, Sjafruddin Prawiranegara, menjadi direktur pertama.

Pada 1953 juga merupakan tahun penting bagi perjalanan De Javasche Bank. De Javasche Bank berubah nama menjadi Bank Indonesia. Perubahan nama itu mempertegas simbol kedaulatan Indonesia di bidang moneter melewati mata dana yang kemudian disebut dengan rupiah.

Kelahiran Bank Indonesia menjadikannya sebagai bank sentral milik Indonesia, juga mengubah De Javasche Bank Agentschap Padang menjadi Bank Indonesia cabang Padang. Bank Indonesia cabang Padang berkantor di kawasan tersebut hingga 1977.

Tidak lama lalu, sesudah tak lagi bisa menampung aktivitas yang semakin padat, kantor Bank Indonesia cabang Padang di Batang Arau dipindahkan ke Jalan Sudirman Nomor 22, Jati Baru, Padang. Pada dua April 2012, kantor Bank Indonesia cabang Padang berubah nama menjadi Kantor Perwakilan Wilayah VIII BI Padang.

Wah, sejarah panjang ini juga tak jauh berbeda dengan gedung Bank Indonesia yang berada di titik Nol Yogyakarta, yaitu dekat perempatan jalan Malioboro Jogja. Pernahkan Sobat kesana? sekalian melanjutkan belajar sejarah dan ber- wisata di Jogja. Wow, pasti menarik sekali. Oke Sob, demikianlah ulasan kita hari ini mengenai sejarah singkat Gedung Bank Indonesia di Kota Padang.

Leave a Reply